Writing never end..


imagesHari ini, aku belajar banyak hal.
Sebuah kerja keras dan usaha yang kita lakukan untuk mencapai sesuatu, belum tentu menghasilkan apa yang kita inginkan dari sesuatu itu!
Akulah contohnya. Bahkan disaat padatnya kegiatan sekolah, banyaknya tugas menumpuk dan ulangan-ulangan, disaat padatnya kegiatan organisasi dan banyak lomba aku ikuti, hatiku bertekad untuk ikut dalam satu kompetisi nasional.
Ialah Lomba Pembuatan Cerpen SMP-SMA Se-Indonesia, bertema Indonesiaku, Aseanku. Bukan hal mudah untuk melakukan ini semua. Aku harus mencuri-curi waktu di pagi, siang atau malam hari untuk mencari ide cerita, bahkan harus mencuri waktu ketika jam pelajaran berlangsung demi mendapat ide tepat atau kata-kata yang tepat untuk menuangkan ekspresi dalam sebuah cerpen. Dan itu semua tidak mudah.
Akhirnya, ketika deadline tiba, dan aku belum sempat mengkonsultasikan karya itu ke Mas Alam (sang penulis dan editor di Kota Malang), aku udah keburu dikejar waktu. Hari ini, 31 Oktober adalah hari terakhir Cap Pos pengiriman naskah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.35, dimana segala cobaan datang silih berganti, mulai printer yang rusak, kartu pelajar yang belum jadi sampai hujan deras. Akhirnya aku bisa ketemu Mas Alam untuk konsultasi karya sebelum dikirim ke Deplu RI di Jakarta. Editing redaksional bahkan belum dilakukan, sedangkan Kantor Pos Malang tutup jam 19.00. Syarat utama, yakni kartu pelajar atau Surat Keterangan dari sekolah belum dibuat. Beberapa jam lagi, kantor pos tutup.
Keputusanpun diambil. Naskahku yang kubuat dengan segala perjuangan, akhirnya gak jadi dikirim ke Jakarta. Dan aku bernapas lega.
Ini semua tak pernah sia-sia. Lebih dari itu, aku bisa belajar banyak hal tentang dunia kepenulisan langsung dari mulut Mas Liga Alam dan beberapa hal lain yang tak pernah terbersit di pikiranku.
Aku bertekad, aku akan tetap menulis…

Here is my Short Story :

Sebuah Cerpen, karya Hadiansyah Yanuar..

Didedikasikan untuk seluruh anak negeri…

Impian Jono

Matahari masih bersinar sangat terik ketika kumandang adzan ashar berbunyi, bergema menuju pelosok-pelosok negeri, memanggil para manusia untuk sejenak meninggalkan rutinitas duniawi dan segera bersujud dihadapan Sang Pencipta. Terik matahari musim panas kali ini sepertinya tak sedikitpun memberi belas kasih keapada setiap makhluk yang ada dibawahnya. Sungguh, musim panas kali ini mungkin adalah musim panas yang terpanas sepanjang masa.

Bagaimana tidak, jemuran pakaian basah yang biasa kering dalam waktu berjam-jam, kini hanya memerlukan waktu beberapa puluh menit saja. Juga pepohonan yang meranggas di tepi jalanan protokol dimana tak ada satupun daun yang tersisa di pucuk ranting yang kering kerontang kepanasan.

Seorang anak belasan tahun, berkulit sawo matang dan berbadan kurus kering,sekering ranting yang meranggas, sedang berjalan tertatih-tatih menelusuri bebatuan di pinggir rel kereta api.

Di sepanjang tepian rel berdiri rumah-rumah kardus, seadanya, miskin dan mengenaskan. Berderet-deret, saling berimpit dan berwarna kusam.

Dua tangannya yang lemah berusaha dengan keras membawa dua ember besar penuh berisi air. Tak pernah ia hiraukan buliran-buliran keringat yang dengan setia membasahi setiap sudut di dada,pundak,ketiak dan punggungnya yang letih. Rambutnya yang kusut dan awut-awutan menandakan kerasnya hidup yang ia jalani.

Namun, dalam matanya yang tulus tersirat sebuah tekad tinggi dan mantap untuk mengarungi sulitnya kehidupan.

Bahkan, dalam sebuah tekad bulat dan perjuangan yang gigih untuk membawa dua ember air, ia merasa terik matahari sepertinya sudah bersinar jauh melampau batas kemampuannya.

Jono-demikian nama anak itu-sepertinya tak kuasa menahan ganasnya sengatan matahari yang membakar kulit, membuatnya berwarna kemerahan dan gatal. Ia sendiri tak habis pikir kenapa saat itu matahari begitu kejam memencarkan sinar ultravioletnya yang membara. Desas-desus yang ada menggemborkan bahwa saat ini sedang terjadi perubahan iklim atau yang lebih keren disebut dengan global warming.

Namun, Jono tak pernah tau dan tak pernah peduli memikirkan apa itu global warming. Memikirkan bagaimana agar hari itu perutnya yang kosong bisa terisi sesuap nasi saja sudah cukup membuat pening kepala. Belum lagi dua adiknya yang sepanjang hari mengeluh kelapararan. Juga biaya kebutuhan sekolahnya yang semakin membengkak, meskipun ia bebas dari iuran SPP berkat bantuan BOS (Bantuan Operasional Sekolah), untuk membeli buku,alat tulis dan sepatu tentu memerlukan tak sedikit biaya.

”Teeeetttt…..”

”Jess….jess…..jess….jess….”

Jono sedikit terkejut saat ia mendengar deruman KRL-Kereta Rel Listrik-yang tiba-tiba saja melintas dengan cepat. Lajunya yang kencang menyisakan debu-debu dan sampah yang berterbangan menyesakkan dada. Untungnya Jono sudah terbiasa, bahkan terlalu biasa dengan situasi seperti itu. Sehingga meski terkejut, ia tak sampai menjatuhkan ember berisi air yang dijinjingnya.

Bayang-bayang masa lalu selalu terngiang setiap Jono mendengar suara kereta. Andai saja kala itu bapaknya tak pernah ngotot pindah ke kota metropolitan ini, tentu nasib akan berkata lain.

”””

”Tidak! Aku sudah bertekad, kita harus pindah ke Jakarta!”, tegas bapak Jono bersikeras dengan argumennya.

”Tapi pak,almarhum bapak kan sudah meninggalkan warisan sepetak sawah?!”, kata ibu sambil mengusap air matanya.

”Kita tidak bisa hidup hanya dengan sepetak sawah, bu!”

”Lagipula,hidup kita bisa lebih terjamin di kota seribu gedung itu! Banyak lapangan pekerjaan yang tersedia disana!”, kata bapak mendukung pendapatnya.

”Tapi pak…..”

”Nggak ada tapi-tapian! Kalau ibu tak mau pindah ke Jakarta, biar aku dan Jono saja yang pergi!”, akhirnya ultimatum bapak keluar.

Begitulah,jika bapak Jono sudah bertekad,apapun upaya yang kau lakukan untuk mencegahnya, sia-sia belaka.

Akhirnya,dengan berat hati ibu Jono menuruti kemauan bapak. Meninggalkan desa tercinta, dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Meski tanpa harapan yang pasti, mereka berangkat menuju kota impian dengan kereta ekonomi yang penuh sesak oleh penumpang. Para penumpang dengan wajah-wajah letih dan suram, wajah-wajah rakyat kecil menengah bawah.

Itulah mengapa Jono selalu sedih teringat masa lalu setiap melihat ataupun mendengar deruman kereta yang lewat. Ia berpendapat, kereta apilah yang membawanya menuju kesengsaraan ini.

Sebuah deruman yang mengingatkannya akan kesalahan terbesar bapaknya, yang memutuskan untuk menyerahkan nasib pada hiruk pikuk ibu kota.

Dengan menjual sepetak sawah warisan ayahnya, bapak Jono menyewa sebuah rumah sederhana yang layak huni. Namun terkadang, takdir memang kejam. Ayah Jono yang bekerja sebagai penjual kerak telor keliling, meninggal dunia tak lama setelah kepindahan mereka.Serangan darah tinggi sejak beberapa tahun yang lalu semakin parah semenjak kepindahannya ke Jakarta.

Sementara itu, profesi ibu Jono sebagai tukang jahit tak mampu membayar biaya kontrakan rumah, sehingga akhirnya mereka diusir dan mendirikan gubuk liar di perkampungan kumuh pinggir rel kereta api. Bergabung dengan koloni kaum urban lainnya yang terbuai dan terjebak oleh iming-iming dan kemegahan Kota Jakarta.

Keadaanlah yang membuat Jono harus menjadi tulang punggung keluarga. Sebagai anak laki-laki tertua, ia harus mengasah otak, memeras pikiran untuk mengais rupiah demi rupiah demi kelangsungan hidup dirinya, ibunya dan adik-adiknya.

Setiap pulang sekolah hingga kumandang isya’ menjelang, Jono menghabiskan waktunya di jalanan. Mengamen, berjualan koran, menawarkan jasa menyemir sepatu ataupun menawarkan jasa payung kepada pengguna jalan bila musim hujan tiba.
Meskipun demikian, Jono tak pernah mengeluh. Ia selalu bersyukur akan apa yang ia peroleh dan ia dapatkan. Seburuk apapun garis takdir yang Jono peroleh tak pernah membuat ia menyerah dan putus asa, justru sebaliknya.

Semangat tinggi untuk menempuh pendidikan dua belas tahun menjadi proritas baginya , meski harus berjuang dengan keringat dan air mata untuk bisa duduk di bangku sekolah.

”Apapun alasannya, kau harus sekolah, nak! Jangan jadikan kemiskinan ini alasan untuk putus sekolah. Berjuanglah agar bisa sekolah, karena pendidikan adalah segalanya”, pesan bapaknya sebelum berpulang.

”””

Cuaca pagi itu cukup cerah. Gumpalan awan putih yang tipis menghiasi setiap sudut di angkasa. Kicauan burung-burung perkutut menambah semarak suasana pagi.

Jono sedang berkutat dengan perlengkapan sekolahnya. Seragam yang sudah melekat di tubuhnya, buku dan alat tulis yang masih berserakan dijejalkannya

ke dalam tas.

”Bu, aku berangkat”,pamit Jono seraya mencium tangan ibunya yang semakin keriput dimakan usia.

”Iya nak, hati-hati di jalan! Belajarlah yang rajin,agar kau jadi orang sukses nantinya!”, pesan ibu dengan pandangan yang sukar ditebak.

”Iya bu. Assalamualaikum….”

”Waalaikumsalam…”

Baru saja Jono melangkahkan beberapa langkah kecilnya, tiba-tiba suara klakson kereta api terdengar nyaring membahana. Mengalahkan suara tangisan bayi di dalam petak-petak rumah kardus, mengalahkan teriak marah ibu-ibu yang mendapati ikan asin mereka lenyap dibawa kucing garong yang nakal.

Satu rangkaian kereta api eksekutif melaju kencang menuju arah Jakarta. Kereta yang datang dari arah timur itu melaju begitu saja seolah-olah menghina keberadaan deret-deret rumah liar di sepanjang rel yang mengganggu keindahan.

Lagi-lagi, Jono teringat kelebat-kelebat masa lalu yang menyedihkan. Namun segera ia tepis pikiran itu. Ia tak ingin, pagi hari yang cerah itu ternodai oleh cuplikan masa lalu yang suram.

Semangatnya untuk memperoleh pendidikan tak boleh diganggu oleh apapun! Demikian ia bertekad. Jono selalu ingat nasehat Pak Ustad di desanya dulu, ”Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat!”

”””

Tak terasa, waktu berjalan sangat cepat. Jam pelajaran terakhir adalah IPS. Bu Erna, guru yang sabar dan baik hati sudah memasuki ruang kelas dan bersiap-siap untuk menerangkan bab ASEAN.

ASEAN, singkatan dari Association of Southeast Asian Nations didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand.”

Lima negara pendirinya yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Filiphina dan Thailand. Sampai saat ini, anggota ASEAN sebanyak 10 negara dan bertujuan untuk bekerjasama dalam pertumbuhan ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya. Selain itu, ASEAN didirikan untuk mempromosikan perdamain regional dan kepatuhan terhadap prinsip dari piagam PBB”, Bu Erna menjelaskan panjang lebar.

Dengan sabar dan penuh perhatian, bu erna menjelaskan lebih lanjut mengenai organisasi ASEAN kepada seluruh penghuni kelas. Jono, yang mulai tertarik dengan bab ASEAN memperhatikan dengan seksama.

Rina, siswi terpintar di kelas itu mengangkat tangan kanannnya.

Iya Rina?”, Bu Erna paham maksud Rina.

Ibu tadi mengatakan bahwa salah satu tujuan dibentuknya ASEAN yakni untuk mengadakan kerjasama di bidang pendidikan. Contohnya seperti apa, bu?”

Baik. Begini Rina,dalam bidang pendidikan, ASEAN mengadakan kerjasama antar negara-negara anggota misalnya saja dengan melaksanakan program pertukaran pelajar, beasiswa dan sebagainya. Kamu pun bisa mendapatkan beasiswa itu kalau memang kamu mampu dan memenuhi persyaratan.”

Bel pulang berbunyi. Keributan kecil berdengung seiring berlangsungnya aktivitas siswa-siswi yang berkemas dengan barangnya masing-masing.

Di luar, seperti hari-hari sebelumnya, udara semakin panas dan membuat gerah setiap manusia yang keluar rumah. Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, Jono terusik dengan kata-kata Bu Erna tentang ASEAN.

…. ASEAN mengadakan kerjasama antar negara-negara anggota misalnya saja dengan melaksanakan program pertukaran pelajar, beasiswa dan sebagainya. Kamu pun bisa mendapatkan beasiswa itu kalau memang kamu mampu dan memenuhi persyaratan.”

Yang ada dalam benak Joni saat ini adalah, apa saja persyaratan untuk memperoleh beasiswa itu? Haruskah anak orang kaya yang mendapatkannya? Haruskah ia membayar biaya pendaftaran yang mahal? Haruskah….??

Bayangan-bayangan negatif mengarungi benaknya. Ia merasa mimpinya terlalu tinggi untuk mendapatkan beasiswa itu. Tak mungkin ia bisa mendapatkannya. Ia hanya anak orang miskin yang tak tau apa-apa. Tak mungkin…

”””

Sinar matahari musim panas telah berakhir. Meninggalkan retakan-retakan di sepanjang jalan protokol, menyisakan rekahan menganga di petak-petak sawah seantero desa, juga dedaunan kering kecoklatan di beberapa pucuk ranting yang gundul.

Kini, seiring datangnya bulan-bulan yang berakhiran –ber, rintik-rintik hujan mulai membasahi ibu kota. Meski kedatangan musim hujan itu terlambat jauh dari jadwal yang seharusnya, guyurannya yang sekejap mampu membuat beberapa titik di ibu kota kebanjiran. Membuat pusing rakyat kecil yang rumahnya hanyut tergenang air setinggi dada, membuat jengkel para pejabat yang jalannya terhambat macet gara-gara banjir,juga membuat pusing pemerintah,yang tak habis pikir bagaimana menanggulangi masalah banjir yang tak kunjung teratasi.

Kesibukan para eksesutif, pejabat, artis dan orang-orang penting lainnya terlihat jelas di Bandara internasional Soekarno Hatta. Troli-troli pembawa koper dan barang-barang lainnya terlihat lalu-lalang kesana kemari.

Begitu pula di pintu keberangkatan internasional,aura kesibukan terlihat jelas dari para penumpang yang akan melakukan boarding pass, mengantri dengan tertib. Sesekali mereka melirik jam tangannya atau memeriksa kembali berkas visa dan paspor guna memperlancar proses imigrasi.

Diantara panjangnya antrean boarding itu, terlihat seorang anak remaja berperawakan sederhana, dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya, juga tatapan kebanggaan dan keharuan yang meluap menjadi satu.

Bajunya yang sederhana dan kulitnya yang sawo matang terlihat cukup mencolok diantara dandanan para penumpang lainnya yang berpenampilan serba elit.

Meski demikian, Jono tidak merasa minder sedikitpun. Sebaliknya, ia merasa sangat takjub, bahagia sekaligus bersyukur bisa berada di tempat itu. Tempat yang sebelumnya tak pernah terbayangkan sedikitpun olehnya.

Terkadang, dunia memang memberikan kejutan-kejutan menakjubkan yang tidak terduga. Kurang dari 24 jam yang lalu, ia sedang duduk bersimpuh di samping pusara ibunda tercinta, dengan air mata yang tak kunjung berhenti membasahi pipinya.

”””

Beberapa hari setelah Bu erna menjelaskan tentang ASEAN, ketika Jono sedang mengamen di jalanan, tiba-tiba matanya menangkap suatu brosur yang menarik.

Di brosur yang berwarna-warni itu, terlihat jelas sebuah tulisan yang sempat membuat jantung Jono berdetak keras. Sekeras deruman kendaraan bermotor yang lalu lalang.

Seketika itu pula, muncul sebuah tekad membara yang mengalahkan panasnya terik matahari di siang bolong, Hatinya berteriak, mimpi-mimpinya tergugah. Jono membaca tulisan ”Asean School Arship” di brosur itu.

”Tapi ini adalah peluang, bu! Ini kesempatan! Dan kesempatan belum tentu datang kedua kalinya!”, malam itu Jono berdebat sengit dengan ibunya.

”Ibu tau nak, tapi apakah kau benar-benar serius…”

”Aku sangat serius, bu! Lebih dari serius! Ini semua untuk masa depan kita!”

”Tapi…”

”Dan masa depan Jono akan lebih terjamin kalau Jono berhasil mengikuti tes beasiswa itu. Ibu sendiri yanbg bilang kalau Jono harus berusaha keras agar menajdi orang sukses!”, Jono berusaha menguatkan argumennya.

”Baiklah nak, apa boleh buat. Ikutilah apa kata hatimu. Ibu tak bisa melakukan apa-apa. Ibu hanya turut mendoakan.”

Akhirnya, meski dengan perjuangan yang tidak mudah untuk mengirimkan aplikasi beasiswa ke Singapura, dan tentu saja dengan dibantu guru dan kepala sekolahnya, Jono dan beberapa teman satu sekolahnya mendapat panggilan tes beasiswa dari ”Asean School Arship”.

Meski anak orang miskin, Jono tak pernah canggung berbahasa inggris. Ia selalu percaya diri ketika berbicara bahasa asing dan selalu mempelajarinya dari setiap media yang ia temukan di jalanan. Mulai majalah berbahasa inggris, tabloid, koran dan sebagainya. Jono merasa, bahasa adalah jendela dunia. Ia ingin sekali menguasai bahasa asing dan terbang ke luar negeri.

Selain itu, tentu Jono selalu unggul di mata pelajaran metematika. Di kelasnya, ia dan Rinalah yang selalu mendapat nilai tertinggi ulangan matematika.

Atas dua dasar itulah, kepala sekolahnya berani merekomendasikan Jono untuk melamar beasiswa ke Singapura.

”Jono, saya yakin kamu berhasil. Berusahalah sekuat tenagamu. Percayalah akan kemampuanmu. Kau pasti berhasil. Insya Allah!”, begitulah pesan dan gemboran semangat yang disampaikan kepala sekolahnya sebelum Jono mengikuti tes di Jayakarta Hotel.

Ternyata Tuhan selalu mendengar doa hambanya yang tulus. Jono akhirnya berhasil lolos dalam tes beasiswa yang diselenggarakan oleh ”Asean School Arship”.

Anglo Chinese School adalah sekolah di Singapura yang menerimanya.

Seluruh biaya akomodasi, living cost selama di Singapura, dan segala biaya tambahan lainnya ditanggung sepenuhya oleh “Asean School Arship”. Jono hanya tinggal berangkat dan mengurusi beberapa berkas imigrasi dan identitas diri.

Namun, disaat kebahagiaan singgah di hatinya, tiba-tiba cobaan menimpa.

Sore hari setelah ia dinyatakan diterima oleh Anglo Chinese School, rumah-rumah (atau yang lebih pantas disebut gubuk) yang berdiri liar di sepanjang rel kereta api digusur oleh pemerintah dengan alasan akan dibangun jalur kereta api ganda.

Para kaum urban tak bisa berbuat banyak kecuali menangis, meratapi sisa-sisa bangunan yang mereka dirikan.

Jono, ibunya dan kedua adiknya mengungsi ke perkampungan kumuh yang jauh dari rel kereta api, lebih menjorok ke aliran sungai citarum yang deras.

Sejak kepindahan mereka, kesehatan ibu Jono menurun drastis. Ibu Jono tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Perkampungan kumuh itu memang jauh lebih mengenaskan. Tak ada air bersih disana, hanya aliran sungai citarum keruh sebagai MCK (Mandi,Cuci,Kakus) warga. Sanitasi yang buruk, lingkungan kotor dan bercampur baur dengan sampah membuat segala macam penyakit berkumpul menjadi satu.

Beberapa hari sebelum keberangkatan Jono ke Singapura, sakit ibu Jono semakin parah. Jono tidak masuk sekolah karena menunggui ibunya yang kritis mengenaskan. Bapaka kepala sekolah,bu guru dan beberapa temannya menjenguk.

Jono telah berusaha sekuat tanaga membawa ibunya ke dokter, uang hasil mengamen, sumbangan dari teman-teman sekolahnya, semuanya ia gunakan untuk membawa ibunya ke dokter.

Namun, takdir berkata lain. Sehari sebelum keberangkatan Jono ke Singaoura, ibunda tercintanya meninggal dunia. Jono beserta adiknya sangat terpukul kehilangan beliau. Sosok yang selama ini merawat mereka, membimbing dan mengasuh mereka. Menafkahi mereka walau dengan perjuangan yang sangat berat, kini meninggalkan mereka untuk selamanya.

Sabar aja jon…Ini semua sudah takdir Yang Maha Kuasa. Kami turut berduka cita dan merasa kehilangan…”, hibur Rina di pemakaman ibu Jono.

Bapak Kepala Sekolah bersedia membantu adik-adik Jono untuk membiayai mereka di Panti Asuhan. Sedangakan Jono tetap berangkat menuju Singapura, untuk menuntut ilmu. Bertekad kembali ke pertiwi dengan segudang prestasi dan nama baik.

”””

Pesawat Garuda Indonesia baru saja take off. Suaranya yang keras memekakkan telinga membahana mengalahkan kumandang adzan maghrib di angkasa. Jono telah bertolak dari Bandara Soekarno Hatta.

Dilihatnya kelap-kelip kota Jakarta yang selama ini membawanya pada penderitaan, kesengsaraan namun juga kebahagiaan dan kebersamaan. Kendaraan-kendaraan yang senantiasa macet dan tumpah ruah di jalanan, rumah-rumah kumuh yang berdiri liar menghiasi ibu Kota, namun juga tugu Monas yang menjulang tinggi dengan gagah perkasa. Berdiri kokoh dengan bangga sebagai maskot republik. Dengan dikelilingi bangunan mewah Kantor DPRD, Istana Negara dan taman-taman yang teratur rapi.

Jono melihat negerinya yang indah memukau. Kelap-kelip Jakarta, yang mewakili kelap-kelip nusantara, menandakan sebuah kehidupan yang syarat akan makna. Menandakan bahwa ada secuil harapan yang harus diraih dan dicapai. Meski harus dengan segala perjuangan yang menyakitkan dan konsekuensi yang mengiris jiwa.

Kini akhirnya, impian Jono tercapai. Dalam hatinya ia bertekad, ia akan berikan yang terbaik untuk pertiwi. Ia akan tunjukkan bahwa anak Indonesia mampu bersaing di dunia regional dan internasional.

Jono bertekad, kepergiaannya tak kan pernah sia-sia. Impian Jono telah tercapai. Ia akan menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Singapore….I’m coming…!”

”””

Malang, 31 Oktober 2008

About Hadiansyah

Seorang anak manusia yang terlahir di bumi arema. Menyukai banyak hal, tantangan dan pecinta kereta api. Kiprahnya di dunia anak-bertekad memperjuangkan hak dan eksistensi anak-tak luput dari teater yang bisa membesarkan namanya. Suka berpetualang-tentunya naik kereta api-membuat bocah berhobi traveling ini bisa membuka mata dan menikmati indahnya dunia. Aktif di dunia jurnalis, sosial dan organisasi lainnya. Kelak ia ingin menjadi insan yang berguna bagi bangsa dan dunia...

Posted on October 31, 2008, in My Life. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Putu Wijaya

Bertolak Dari Yang Ada

Website Dewan Perwakilan Anak Kota Malang

"Because We Care of the Child"

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

ISA Study Abroad Student Blog

The World Awaits...Discover It.

MP3.com

Free music downloads, radio, lyrics, songs, and playlists

Hadiansyah Aktsar Official Site

More than just a blog : a pen, diary and imagination ~

%d bloggers like this: