Sebuah Pidato Pancasila…


”Saudara-saudara! Dasar negara yang saya usulkan itu, saya namakan Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah, kita mendirikan Negara Indonesia. Kekal dan Abadi!”

(Cuplikan pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, Hari Pancasila)

bung-karno

Bung Karno, adalah salah satu sosok favoritku. Entah kenapa.Apakah karena beliau adalah Pahlawan nasional? Apakah karena beliau presiden pertama Republik ini? Ataukah karena aku kagum dengan sosok kepemimpinan, keteguhan, kecerdasan dan kecintaannya dengan tanah air? Aku juga gak tahu alasan yang pasti. Yang pasti, aku mengidolakannya. Akhirnya, ketika ada tugas dari sekolah untuk mengikuti Lomba Pidato Pancasila, aku langsung berkata ’iya’! Lagipula, dua tahun silam aku pernah ikut kompetisi ini dan meski gak berhasil lolos ke Babak Final, yang pasti aku dapet basic atau sedikit pengalaman darinya. Dan bahkan aku sempet masuk media karena kostumku yang ’nyentrik’ (aku pake baju safarinya bung karno-itu juga karena aku mengidolakan Bung Karno). Kali inipun aku mengulanginya. Meski bajunya serasa lebih sesak, tapi aku tetep pede pake kostum era 60-an itu.

Waktu giliran pun tiba. Aku masuk ruangan audisi. Sempet nerveous dikit, tapi berhasil aku kuasai. Setelah beraksi berorasi di depan tiga orang juri, hati tersa plong. Namun aku merasa ada yang kurang dengan penampilanku. Kurang, sangat kurang, bahkan jelek. Aku bener-bener merasa kecewa dengan penampilanku barusan. Tapi sudahlah, toh aku udah berusaha tampil semaksimal yang aku bisa. Persiapan yang mendadak dan kurang matang mungkin menjadi pemacu utama penampilanku barusan. Script yang aku bacakan pas lomba tadi, baru aku print pagi tadi, sebelum lomba! Aku latihan juga cuman semalam. Itu pun ogah-ogahan. Habis, waktunya gak tepat banget. Aku lagi banyak kerjaan di sekolah, dan hari ini juga ada acara gede, Orientasi Anggota Baru DPA di Perpustakaan Umum. Beban moral buat aku, sebagai ketua DPA, kalo aku nggak hadir di tempat. Otomatis, aku bolak-balik dari tempat lomba dan Perpustakaan untuk melaksanakan kedua urusan yang sama-sama penting itu.Walhasil, saat pengumuman tiba, aku nggak lolos. Bahkan untuk masuk ke audisi kedua, aku gak lolos. It’s okey. Udah kuduga banget. Bukannya pesimis, tapi realistis. Aku nggak kecewa, justru sebaliknya, aku belajar satu hal. Setiap hal yang akan kita kerjakan, harus kita perjuangkan dengan maksimal dan sungguh-sungguh. Dan aku gak jumpai hal itu dalam lomba kali ini.

Kekalahan ini tetap membuat aku mengidolakan Bung Karno dan menjunjung tinggi nilai Pancasila, sebagai dasar negara pertiwi. Kekalahan ini justru sebagai bumerang buat aku untuk lebih banyak belajar memaknai kembali pancasila, untuk belajar berorasi jauh lebih baik, layaknya seorang Bung Karno dengan pidato-pidato dahsyatnya…

pancasila

Saudara-saudara!
Dalam kehidupan manusia, baik individu maupun kolektif, peranan ideologi sangat penting, agar individu atau kolektivitas tersebut selalu konsisten dalam langkah dan pemikirannya serta tidak kehilangan arah. Ideologi tidak hanya membantu mengatur rakyat, tapi juga mengendalikan para pemimpin bangsa.
Masyarakat Indonesia, generasi muda khususnya, harus mampu menjadi pelopor bagi bangsa ini untuk menyatakan bahwa agar dapat bertahan dalam gelombang era globalisasi yang semakin besar dan semakin ditunggangi oleh semangat neo-kapitalisme dan neo-imperialisme, maka pemuda dan pemudi Indonesia harus bangkit dan menyuarakan dengan lantang dan keras perlunya memperkokoh pancasila sebagai ideologi negara Republik Indonesia dan sebagai pandangan hidup yang menjiwai segenap tindakan dan perbuatan bangsa Indonesia.
Ingatlah kata Bung Karno, Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah, kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi!
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air!
Menjadikan Pancasila sebagai perekat bangsa bukanlah hal yang mudah. Tidak semudah membalik telapak tangan, tidak semudah menolehkan kepala.
Apalagi disaat berbagai krisis multi dimensional mulai merambat, disaat munculnya krisis finansial yang merangkak dan disaat praktek korupsi serta nepotisme merajalela, sementara adanya pluralisme yang semakin menjauh dari prinsip ideologi bangsa untuk mencapai cita-citanya.
Sementara itu disintegrasi sosial dan politik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang tetap mengancam keutuuhan bangsa dan negara.  Kesenjangan sosial semakin tampak jelas diantara rakyat Indonesia. Jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, si kulit putih dan si kulit hitam, si rambut ikal dan si rambut lurus semakin lama semakin berujung pada suatu disintegrasi bangsa.
Sebagai suatu bangsa dan negara, Indonesia merupakan suatu nasionalitas yang besar. Saya katakan demikian, karena Negara kita bukan hanya teridiri dari satu daratan, bukan terdiri dari satu etnis saja, bukan pula terdiri dari satu golongan. Betapa saya sedih melihat saudara-saudara kita di Ambon yang menderita konflik berkepanjangan, betapa saya menangis, melihat pemuda jakarta adu jotos dalam intelektualismenya.
Ingatlah pidato bung karno, bahwa kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan kristen buat indonesia, bukan golongan islam buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemoto yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!
Kita mendirikan bangsa Indonesia bukan di dalam sinarnya bulan purnama, tetapi di bawah palu godam peperangan dan di dalam api peperangan!
Saudara-saudara!
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengahargai jasa para pahlawannya. Jikalau para kusuma bangsa telah berusaha mati-matian merebut kemerdekaan dengan tetesan darah, keringat dan air mata,akankah kita berpangku tangan untuk menyikapi tantangan globalisasi yang semakin mengikis ideologi Pancasila? Tidak! Kita harus bahu-membahu, sisingkan lengan untuk revitalisasi dan reaktulaisasi nilai-nilai pancasila. Mari, jadikan pancasila sebagai perekat bangsa ini!
Pertahankan nilai-nilai budaya bangsa sebagai suatu identitas bangsa dan negara Indonesia. Cintai budaya negeri, cintai produk dan hasil karya anak negeri. Betapa saya heran melihat Cathrine, yang berkebangsaan Amerika, menjadi sinden keroncong, tatkala pemuda Indonesia sibuk terbuai dengan budaya asing!
Renungkanlah pesan Bung Karno!
Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nasionalis yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup sempurna, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan keTuhanan yang luas dan sempurna, -janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya- ialah perjuangan, perjuangan, dan sekali lagi perjuangan. Jangan mengira  bahwa dengan berdirinya negara Indonesia itu perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata : Di dalam Indonesia merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus!
Terima Kasih.
By : Hadiansyah, 23 Nov 2008

About Hadiansyah

Seorang anak manusia yang terlahir di bumi arema. Menyukai banyak hal, tantangan dan pecinta kereta api. Kiprahnya di dunia anak-bertekad memperjuangkan hak dan eksistensi anak-tak luput dari teater yang bisa membesarkan namanya. Suka berpetualang-tentunya naik kereta api-membuat bocah berhobi traveling ini bisa membuka mata dan menikmati indahnya dunia. Aktif di dunia jurnalis, sosial dan organisasi lainnya. Kelak ia ingin menjadi insan yang berguna bagi bangsa dan dunia...

Posted on November 23, 2008, in My Life. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. coooooooooooooooooooooooolllllllllllllllllll

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Putu Wijaya

Bertolak Dari Yang Ada

Website Dewan Perwakilan Anak Kota Malang

"Because We Care of the Child"

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

ISA Study Abroad Student Blog

The World Awaits...Discover It.

MP3.com

Free music downloads, radio, lyrics, songs, and playlists

Hadiansyah Aktsar Official Site

More than just a blog : a pen, diary and imagination ~

%d bloggers like this: