Possitive Character Camp : Day one


07 Juli 2009

Fiuhh…

Sumpah,, aku gak habis pikir. Liburan semester kali ini jadwalku padet banget! HAha.. .. Tapi beneran loh! SAmpai-sampai program beresin kamar tidur plus beresin file-file and buku-buku di meja belajar yang berantakan belum juga terealisasi. Kalo aku liat baik-baik, bahkan mulai awal libur semester, jadwalku and temen-temen DPA Malang emang full. Kalo gak percaya, mari kita rinci bersama:

Tanggal 26-28 Juni 2009 >> Pemetaan Kekerasan Tahap 2, Hotel Swaloh, Tulungagung
Tanggal 1-2 Juli 2009 >> Kompilasi Pemetaan Kekerasan, Azaria Resto and Hotel, Malang
Tanggal 3-5 Juli 2009 >> Kongres Anak Jawa Timur 2009, Hotel Utami, Surabaya
Tanggal 7-9 Juli 2009 >> Possitive Character Camp, Desa Sumberwangi, Karangploso

Nah,, hari ini, kami akan mengawali agenda keempat dalam liburan kami, yaitu PCC (Possitive Chareacter Camp) aias Bedol Desa. Acara ini sengaja dikemas mas acun and mbak rosy untuk mengisi liburan temen-temen DPA dengan kegiatan yang luar biasa. Dengan konsep acara yang udah dipersiapkan matang, kami berangkat dari Tarekot jam 7 pagi (molor satu jam, jadwalnya berangkat jam 6). Dengan tiga buah angkot TST, kami menuju Kecamatan Karangploso. Oya, aku bawa carrier alias tas ransel yang gede banget (pinjem kakak), plus satu tiker. Kegiatan kami tiga hari kedepan emang gak main-main, kami bener-bener akan mengalami sebuah pengalaman yang tak pernah terbersit dalam benak kami sebelumnya…

Desa Sumberwangi, Lereng Gunung Arjuno, 10.25

pcc
Pick Up yang membawa kami menuju desa terpencil ini berhenti tepat di rumah Pak RW yang sangat sederhana. Seperti kebanyakan rumah di desa ini, dindingnya terbuat dari anyaman bamboo, dengan lantai yang beralaskan tanah, dan perabotan seadanya (TV kecil 10 inchi hitam putih) dan yang paling penting : Gak ada listrik. Gak ada stopkontak. Lampu dan tivi yang menyala menggunakan tenaga surya.
Gelak tawa dan celotehan ringan anak-anak desa yang polos, menyambut kami. Belum sempat aku puas mengagumi keindahan pemandangan alam yang dipenuhi deretan pohon pinus, bukit-bukit hijau dan hamparan pemandangan kota di kejauhan, aku ditarik-tarik sama anak-anak desa untuk bermain kotak pos. Haha,,, seru banget..

Setelah briefing di rumah Pak RW, kami menuju rumah penduduk sesuai kelompok yang telah dibagi berdasar jenis kelamin, karena selama 3 hari kedepan, kami akan tidur di rumah-rumah penduduk, beserta kelompok dan satu orang pendamping.

Sekitar jam 13.00, kami, 31 anak peserta PCC berkumpul di pendopo dusun yang kecil, berdebu dan sangat sederhana. Dikelilingi oleh rimbunnya pepohonan pinus, dan dikelilingi oleh anak-anak desa yang tak hentinya berceloteh riang (sepertinya mereka senang atas kehadiran kami).

Di pendopo, Mas Acun membeberkan materi pertama, tentang Empati dan percaya diri. Bagus banget materinya, kami juga dikasih ice breaking yang keren-keren, jadi gak bosen dan jenuh. Tapi, satu hal penting yang harus kami ingat dan kami catat baek-baek adalah : KOMITMEN. Komitmen kami selama ikut PCC, komitmen yang telah kami buat sendiri dan yang harus kami jalankan selama 3 hari kedepan. Aturan main dan beberapa ketentuan yang menyangkut tata tertib dan kedisiplinan, tanggung jawab dan loyalitas, semua masuk dalam 10 butir komitmen yang telah kami susun bersama. Hukuman? Tenang saja, semua juga sudah disusun dan disepakati bersama. Jadi, disini berlaku hukum partisipatori, dimana hukuman diberikan atas permintaan kami sendiri, bukan hukuman otoriter para pendamping.

pcc 2Jujur,aku gak bisa beberkan banyak momen-momen saat PCC di blog ini, karena jika aku menceritakan tiap adegan dan peristiwa yang kami lakukan disana, bisa aku beberkan dalam sejuta kata (haha… lebay…), jadi, langsung ringkasannya aja, yang pasti, aku excited banget sama rumah yang kami tempati. Aku menginap di rumah salah satu warga, rumahnya sederhana banget. Beratap genteng, beralaskan tanah. Rumah yang ditempati kelompokku kebetulan udah ditembok bata (kebanyakan rumah lainnya masih bertenmbok anyaman bambu). Aku lihat sekelilingku. Perabotan mewah tak terlihat satupun di ruang tamu atau ruang keluarga, kecuali satu buah televisi hitam putih kecil yang ada di atas meja di ruang keluarga yang sekaligus jadi tempat tidur salah satu anggota keluarga. Satu buah lampu neon suram menggantung di tengah ruangan, tak cukup menerangi seluruh penjuru rumah yang gelap gulita karena malam. Memang, perkampungan disini tidak memiliki akses listrik, tapi mereka menggunakan tenaga surya yang terbatas.

Aku dan teman-teman kelompok 4 mencoba menikmati mimpi kami dengan segala keterbatasan yang ada. Diatas sebuah tikar dan karpet yang tipis, kami berselimutkan sarung dan selimut tipis yang kami bawa dari rumah. Udara dingin pegunungan yang menusuk tulang bener-bener bikin kami nggak bisa tidur nyenyak. Kalo waktu itu kami bawa temperatur, aku yakin suhunya dibawah 10 derajat celcius.
Akhirnya, lelah memaksa mata kami tuk terlelap, terbuai dengan mimpi masing-masing dan menanti hari esok yang penuh dengan kejutan-kejutan baru…

About Hadiansyah

Seorang anak manusia yang terlahir di bumi arema. Menyukai banyak hal, tantangan dan pecinta kereta api. Kiprahnya di dunia anak-bertekad memperjuangkan hak dan eksistensi anak-tak luput dari teater yang bisa membesarkan namanya. Suka berpetualang-tentunya naik kereta api-membuat bocah berhobi traveling ini bisa membuka mata dan menikmati indahnya dunia. Aktif di dunia jurnalis, sosial dan organisasi lainnya. Kelak ia ingin menjadi insan yang berguna bagi bangsa dan dunia...

Posted on July 7, 2009, in My Life. Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. keren bgttt!
    terkadang aku berpikir, anak-anak di sma 4 ini juga perlu untuk diajak tempat yang seperti itu. agar mereka tahu arti memiliki.

  2. Mas Hadiyansah,

    Saya Eko dari bank dunia, kebetulan sedang nyari foto yang ada kaitannya dengan access geografi dalam hal ini “jalan”, kebetulan dalam tulisan blog mas Hadi ada foto yang menarik (foto pertama dalam tulisan ini). Apakah saya boleh menggunakan foto ini untuk kami jadikan cover buku yang sedang kami buat.

    Buku ini cerita tentang status kesehatan ibu di Indonesia.

    Terima kasih
    Eko

  3. oke..
    boleh mas eko .

    silakan aja . tapi ntar aku dikasih ya bukunya ..🙂

    thax

  4. Okey mas Hadi..tolong kirimkan alamat lengkapnya nanti aku kirim bukunya ke mas Hadi.

    Thanks a lot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Putu Wijaya

Bertolak Dari Yang Ada

Website Dewan Perwakilan Anak Kota Malang

"Because We Care of the Child"

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

ISA Study Abroad Student Blog

The World Awaits...Discover It.

MP3.com

Free music downloads, radio, lyrics, songs, and playlists

Hadiansyah Aktsar Official Site

More than just a blog : a pen, diary and imagination ~

%d bloggers like this: