Possitive Character Camp : Day 3


Udara dingin yang menusuk tulang menyapaku disela-sela usaha kehangatan yang kami lakukan-dengan tidur saling berdempetan. Namun tetap saja, udara beku yang menyelimuti kami tidak bisa diusir serta merta, memaksa kami tuk menggigil kedinginan dan gak bisa tidur dengan nyenyak. Dengan hadirnya suhu dibawah 10 derajat celcius itu, kami telah lupa bahwa kami sedang tidur hanya beralaskan satu buah karpet diatas lantai yang masih berupa tanah. Kami telah lupa akan rasa nyaman dari tidur empuk di atas spring bed atau bahkan enaknya tidur di hotel bintang empat, dimana kedinginan musykil berasal dari AC yang bisa diseting suhunya suka-suka. Tapi inilah hidup, dan kami harus bisa mengambil segala yang berharga dari momen-momen ini. Diantara dinginnya udara subuh, tiba-tiba sinar senter dan ketukan pintu terdengar membangunkan lelap kami.

“Bangun….bangun…” Ternyata itu agustin. Dengan enggan aku lepaskan selimut dan segera mengambil air wudhu. Tak lama kemudian, kami sudah berada di Mushola, melaksanakan Sholat Shubuh berjamaah. Setelah melakukan sholat, Mas Acun memberikan kuliah shubuh.

Kata demi kata, mas acun memberikan kultum yang menyentuh kalbu. Perlahan, mas acun menceritakan kisah masa lalu dan segala hal berharga yang membuat air mata kami meleleh. Sugguh, di pagi yang dingin ini, kami tak bisa berkutik diantara kata-kata indah mas acun yang ia lantunkan. Tak lama, sedu sedan tangis 31 anak peserta PCC memenuhi mushola. Bagai dikomando, kami akhirnya minta maaf satu sama lain. Semoga tangis itu bukan merupakan suatu kemunafikan. Semoga, uraian air mata itu berubah menjadi suatu momentum berharga yang bisa merubah kehidupan kami tuk menjadi sosok yang lebih baik. Semoga…

Sementara itu, di ufuk timur sang mentari terlihat semakin gagah menerangi alam, merangkak perlahan dari
balik pegunungan. Namun demikian, udara dingin yang menusuk kulit tak kunjung hilang. Jika kau menghembuskan nafasmu diluar sana, maka kau akan melihat gumpalan asap putih dari desahan nafasmu itu. Pagi ini, kami punya acara spesial diluar rencana, acara yang kemarin aku rekomendasikan, mendaki gunung. Hahha.. Yup. I really like it. Climbing. Setelah siap, kami perlahan menelusuri jalan setapak diantara jajaran pohon pinus, menuju puncak gunung yang menjulang tinggi. Entah nekat atau apa, yang pasti kami sangat terobsesi untuk melihat kebesaran ciptaan Tuhan dari puncak gunung sana. Perlahan tapi pasti, kami mencoba untuk menaklukan semak, menerobos hutan, menebas dinginnya embun diantara dedaunan, dan menanjaki beceknya tanah.

Kami belum sampai ke puncak gunung, meski lelah sudah mengahantui. Kami berada di antara tumbuhan kol dan wortel. Indah sekali. Petak-petak kebun berjajar rapi membentuk pemandangan indah yang mempesona.
Dibawahnya ada sekelompok tanaman Lombok yang berjejer rapi, dan dibawahnya lagi terlihat sekelompok tanaman tomat yang juga berpetak-petak. Indah. Mengingat keterbatasan tenaga dan waktu yang kami miliki, akhirnya kami hanya mendaki sampai ¾ gunung, merasa sedikit puas dengan jerih payah kami dan berfoto bersama, sebelum akhirnya menikmati pemandangan elok nun jauh disana. Gunung putrid tidur di sebelah barat terlihat mempesona, dengan kedamaian abadi yang memberika citra mistis bagi para penduduk di sekelilingnya. Ya, gunung itu memang menyerupai seorang wanita yang sedang tertidur. Hidungnya mancung, dan rambutnya panjang, Sungguh elok dan mempesona.

Setelah kira-kira 2 jam kami bermain dan mendaki gunung, para peserta minum susu dan jelly dan akhirnya membereskan rumah, memasak makanan kami sendiri dengan dibagi tugas berdasarkan kelompok tidur. Ada yang bagian memasak nasi, ada yang bagian memasak telor, ada juga yang bagian memasak mie instan. Setelah itu, mereka diwajibkan untuk mengantar material makanan-makanan itu ke rumah-rumah tempat kami menginap. Dan jumlah makanan yang kami terima tiap paginya setara dengan jumlah poin yang kami kumpulkan dari kegiatan-kegiatan selama sehari penuh. Ada poin kekompakan dari kegiatan adventure, ada poin tambahan karena bisa menjawab pertanyaan, ada poin keaktifan dan sukarela, namun poin juga bisa hilang dan berkurang karena keterlambatan, keegoisan dan ketidakharmonisan, Semua bergantung pada kami, para peserta.

Tak terasa, waku berjalan begitu cepat. Kami harus meninggalkan desa sumberwangi, kembali kepada kehidupan kami sesungguhnya. Kelebat adegan demi adegan selama disini, membuatku sulit tuk meninggalkan momen ini, meski di sisi lain, aku begitu merindukan enaknya tidur di rumah dan bercengkerama bersama keluarga ditemani tayangan televisi dan segelas cappuccino.

Aku masih ingat, kemarin petang sebelum sholat maghrib, perutku sakit. Mules. Apalagi bau sapi (kotorannya) menambah mual, maklum di depan rumah tempatku menginap, ada kandang sapi yang diisi 3 ekor sapi yang baunya minta ampun. Mas acun sempat ngeliat aku tidur di kursi ruang tamu, dan dengan aura kebapakannya, aku dikasih segelas teh hangat.

Masih inget juga di benakku, ketika kami harus melakukan adventure, mengelilingi hutan pinus dengan kelompok masing-masing, memecahkan teka-teki dan menyelesaikan tugas yang menguji kekompakan, kerjasama, pikiran, tenggang rasa, dan team work. Masih inget di benakku, ketika kami harus memperjuangkan satu kantong plastik yang berisi air, menyerobot semak-semak dibawah tali rafia layaknya tentara, melewati spider web, dan melaksanakan perang badar bersama para fasilitator. Seru banget. Malam harinya, kami juga sempat melakukan kegiatan api unggun, dengan sajian penampilan dari masing2 kelompok. Pengalaman yang bener-bener berkesan.

Kini, semua harus berlalu, menyisakan kenangan indah yang tak akan terlupakan. Gelak tawa anak-anak kampung yang polos, suara gemuruh binatang malam, dinginnya suhu udara bahkan ketika siang bolong, serta rimbunnya pepohonan pinus yang eksotik memberikan rasa nyaman tersendiri, meski segala keterbatasan dan kesederhanaan harus menemani hari-hari kami.
Spesial thanks dan appreciate yang setinggi-tingginya buat Mas Acun, Mbak Rossy, mas-mas dan mbak-mbak pendamping, dan 31 anak-anak luar biasa yang sudi meluangkan waktunya untuk mengukir kenangan indah di lereng gunung arjuno. I love u all…

About Hadiansyah

Seorang anak manusia yang terlahir di bumi arema. Menyukai banyak hal, tantangan dan pecinta kereta api. Kiprahnya di dunia anak-bertekad memperjuangkan hak dan eksistensi anak-tak luput dari teater yang bisa membesarkan namanya. Suka berpetualang-tentunya naik kereta api-membuat bocah berhobi traveling ini bisa membuka mata dan menikmati indahnya dunia. Aktif di dunia jurnalis, sosial dan organisasi lainnya. Kelak ia ingin menjadi insan yang berguna bagi bangsa dan dunia...

Posted on July 9, 2009, in My Life. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Putu Wijaya

Bertolak Dari Yang Ada

Website Dewan Perwakilan Anak Kota Malang

"Because We Care of the Child"

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

ISA Study Abroad Student Blog

The World Awaits...Discover It.

MP3.com

Free music downloads, radio, lyrics, songs, and playlists

Hadiansyah Aktsar Official Site

More than just a blog : a pen, diary and imagination ~

%d bloggers like this: