Antara Cinta dan Kopi Panas


“Dear beloved,

If this love is only exist in my dream,

Don’t wake me up..”

Rembulan diatas sana bahkan menutup dirinya. Langit kelabu. Tak ada satupun bintang yang bersinar. Debu dan asap jalanan Ibukota menyeruak menjadi satu molekul yang bercampur bau keringat orang-orang yang pulang kerja, menyatu dengan busuknya bau selokan-selokan yang penuh sampah.

Pahit.

Asam.

Perih.

Getir.

Tetes demi tetes Espresso Americano membasahi kerongkonganku. Kupaksakan dia masuk ke rongga perut, ke lambung, mengelilingi usus dan sampai ginjal dan entah kemana lagi.

Pahit.

Sengaja tak kutambahkan sedikitpun gula didalamnya. Espresso yang kubeli dari Starbucks sore ini sekarang menjelma menjadi dingin. Tak lagi “hot” and “sexy”. Baunya pun tak sesedap waktu dia panas tadi.

Ada yang bilang, cinta itu kayak kopi panas. Kalo diminum cepet-cepet, ntar cepet abis, bikin lidah sakit pula. Tapi kalo dibiarkan lama-lama, dia jadi dingin. Gak sesedap waktu panas tadi.

Dan sengaja gue pilih Espresso, kenapa gak Coffe Latte atau Cappuccino yang biasa gue beli kalo ke Starbucks, karena ternyata hidup itu gak cuman manis aja. Gue sekarang sadar bahwa hidup itu gak selalu manis kayak Latte, ga selalu riang kayak Frappuccino, tapi terkadang dia pahit banget kayak Espresso.

Itulah realita.

Tapi gue yakin gak semua orang mau minum Espresso yang pahit. Kebanyakan dari mereka pasti nambahin gula. Tapi kali ini, gue mencoba melihat realitas dan berusaha menerima kenyataan bahwa Espresso yang asli itu ya emang pahit. Gue harus terima konsekuensinya.

Buat gue, hidup itu untuk mencintai. Dan cinta itu terkadang emang buta. Terkadang gue berpikir, “Mungkinkah kita terlahir di bumi ini dan tidak pernah mencintai satu orang pun?”

Mencintai dan dicintai. Buat gue, mencintai itu lebih berat daripada dicintai. Kayak pepatah yang bilang kalo “Memberi lebih baik dari menerima.”

Menurut gue,ย “Mencintai adalah hak setiap manusia, tapi dicintai itu adalah suatu anugerah.”

Dan ketika kita tulus mencintai seseorang, terkadang kita harus berterus terang kepada mereka. Entah mereka mau menerima atau menolak cinta itu, gak masalah. Itu urusan belakang. Yang pasti kita udah jujur dan berterus terang tentang apa yang kita rasakan.

Gue sekarang tahu apa arti pepatah yang bilang kalo “Cinta itu suci”.

Gue sekarang juga paham kalo ternyata cinta itu emang gak harus memiliki.

Karena cinta yang tulus adalah cinta yang kita berikan dengan sepenuh hati dan tak pernah mengharapkan balas jasa.

Ada pepatah yang bilang: “Buat apa sih kita mencintai orang yang gak akan pernah mencintai kita?” Kalo menurut gue, mencintai itu gak pernah ada ruginya kok. Meski terkadang sakit dan perih, tapi justru darisanalah kita bisa belajar banyak tentang kehidupan.

Cinta itu emang gila. Kadang-kadang bikin kita hepi, senyum sendiri, atau malah sebaliknya. Bikin kita nangis dan sakit hati. Udah cukup lah air mata yang gue keluarin beberapa menit terakhir ini. Gue capek.

“And do you know what the man crying for? They only cry for something they truly love.”

Kalo mau jujur, kita pasti bakal bahagia kalo hidup bersama orang-orang yang kita cintai. Apalagi ketika pagi ini gue bangun disamping orang yang ternyata bener-bener gue cintai. Rasanya beda aja. Kayaknya dunia itu lebih indah. Lebih bewarna. Kayaknya dunia itu terasa cuman punya lo berdua.

Tapi apa jadinya kalo orang yang kita cintai itu pergi? Sedih pasti. Dan lebih perih lagi, kalo orang itu gak pernah tau kalo kita mencintainya.

But it’s ok. Gue sekarang udah berusaha menerima kenyataan bahwa semua yang kita miliki di dunia ini ternyata cuma sementara. Semua itu cuman titipan Tuhan. Gue sekarang udah mulai terbiasa merelakan sesuatu dan orang-orang yang gue sayangi. Karena ternyata hakikat cinta yang paling dasar dan kekal adalah: Cinta kepada Tuhan.

“Dear beloved one,

Gue tau ini bukan cinta biasa. But please understand me. And listen to me. I write you this with my heart and tears.

Ini adalah persembahan gue buat elo. Seseorang yang sempat hadir di beberapa mimpi gue. Seseorang yang ternyata buat gue bahagia. Seseorang yang buat gue merasa lebih kaya dan lebih tabah.

Gue sekarang bisa terbang bebas dan bahagia. Gue ngerasa bahwa “karma” gue udah terselesaikan. Karena meskipun elo bukan cinta pertama gue, tapi elo adalah cinta terakhir gue. Gue janji pencarian gue bakal berakhir disini.

Gue gak butuh apa-apa dari elo. Gue juga gak mengharapkan suatu jawaban atau apa. I only need you to know this. I need you to know that “I love you.”

Terimakasih telah mengajarkan gue gimana cara mencintai. Terimakasih telah berikan kesempatan gue buat nyatain apa yang selama ini gue pendam. Terimakasih buat semuanya.

I love you with all my heart. And no matter what is this, no matter how crazy it is, elo adalah sosok yang gue cari selama ini. I’ll be happy whenever you are happy.”๐Ÿ™‚

28/9/2012

11:07 pm

Binus Square

B1621

Posted on September 28, 2012, in My Life. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Putu Wijaya

Bertolak Dari Yang Ada

Website Dewan Perwakilan Anak Kota Malang

"Because We Care of the Child"

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

ISA Study Abroad Student Blog

The World Awaits...Discover It.

MP3.com

Free music downloads, radio, lyrics, songs, and playlists

Hadiansyah Aktsar Official Site

More than just a blog : a pen, diary and imagination ~

%d bloggers like this: