“Jeritan Kami” – Monolog untuk Alawy


Sedih. Miris. Marah dan Terluka.

Itu yang gue rasain waktu pertama kali lihat video diatas. Gue gak bisa nahan air mata gue waktu ngelihat berita Tawuran anak SMA 6 ama SMA 70 Jakarta yang sampe menjatuhkan korban jiwa. Seorang anak muda, Alawy Yusianto Putra, pelajar SMAN 6 Jakarta harus meregang nyawa hanya karena pertarungan abal-abal ala pelajar. Apalagi melihat para simpatisan dari pegguna youtube yang banyak bikin Video Story buat Almarhum Alawy, that time I was realized that Alaway was the one who loved dan dia adalah anak yang baik-baik.

Sempet gue googling tentang sejarah berdarah “SMA 70 dan SMA 6” serta fenomena tawuran pelajar di Ibukota. Memang ini bukanlah cerita baru. Bahkan dari salah satu sumber alumni SMA 70 yang kebetulan temen gue di Goethe Institut, dia bilang kalo para Alumni dari kedua sekolah tetap mengorganisir dan menjaga ketat alur pergaulan “genk” dan kegiatan tawuran mereka. Masing-masing seperti punya arogansi, gengsi dan kepentingan sendiri layaknya film-film mafia. Tapi ini melibatkan PELAJAR.

Tentu ini BUKAN hal yang patut dibanggakan.ย Data yang didapat di Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), mencatat, sepanjang tahun 2012 hingga 25 Desember 2012, telah terjadi sebanyak 147 tawuran. Peristiwa itu menyebabkan 82 pelajar tewas. Angka ini meningkat dibanding tahun 2011 yang hanya terjadi 128 kasus, dan menewaskan 30 pelajar.

Bayangkan. 82 nyawa anak muda melayang sia-sia hanya karena suatu hal yang harusnya bisa kita hindari. Ini adalah tugas BERAT bagi Pemerintah, Sekolah, Orang Tua dan Masyarakat. Saya tahu saya bukan siapa-siapa. Saya hanya tiba di Jakarta Juli tahun ini dan menjadi mahasiswa perantauan disini. Tapi saya PEDULI dengan Jakarta dan Anak Muda Indonesia. Kita harus berbuat sesuatu. SEGERA.

Jeritan Kami

Kebetulan di waktu yang sama, Federasi Tetaer Indonesia sedang mengadakan Lomba Festival Monolog Ruang Publik Ke-5. Sebagai insan teater yang sudah bergelut di bidang ini sejak SMP, gue otomatis langsung daftar. Apalagi konsep teater ini unik. Para peserta akan menampilkan karya-nya langsung di depan publik di spot yang mereka pilih. Jadi audience mereka adalah “the real people” on the spot. Tentu spot yang kami pilih harus sinkron dengan tema monolog yang akan kami bawakan.

Begitu ada kompetisi ini, gue langsung seperti dapet “angin segar” buat batu loncatan untuk melakukan “sesuatu.” Akhirnya gue fix akan mengangkat kisah Alawy untuk perlombaan kali ini. Konsep monolog yang gue bawain kali ini bisa dibilang cukup “beda” dari monolog-monolog yang pernah gue tampilin sebelumnya. Karena gue lebih banyak menggunakan bahasa metafora baik di naskah maupun properti. Bukan hanya itu, untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue bakal ngadain “Konser Amal.” Well, lebih tepatnya “Pertunjukan Amal.” Karena nantinya kalo misal gue menang di perlombaan ini, hadiah dari panitia akan disumbangin buat keluarga Alawy plus gue akan galang dana dari para audience di sekitar lokasi. (Gue milih Taman Ayodya sebagai tempat pementasan karena dia adalah salah satu ruang publik terdekat antara SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta.)

Sayangnya, gak banyak pelajar yang nonton monolog ini. Gue udah menghubungi OSIS dan Anak Teater SMA 70 untuk hadir (dan well, some of them are there fortunately) tapi sayang sekali gue gak berhasil ngundang anak SMA 6 karena waktu mau kasih undangan sekolahnya waktu itu ditutup rapat. Sempet juga coba undang pers buat dateng (kali ini mencoba memanfaatkan Ezra, temen sekelas di Goethe yg jadi gitaris Hivi) tapi hasilnya nihil. Well, secara gue di Jakarta bukan siapa-siapa. Baru kali ini gue ngadain Pers Conference tapi gak ada Pers yang datang :p Padahal kalo di Malang mah, sekali sms, bbm dan forward email ke temen-temen wartawan, mereka pasti langsung datang ke lokasi. Dan pasti minimal dua media berbeda yang datang. (Untungnya kerja jadi aktivis!)

Bukan apa-apa, juga bukan maksud mejeng di tivi. Tapi gue pengen nunjukin ke Pelajar Indonesia (khususnya Ibukota) bahwa anak muda itu punya banyak hal lain yang bisa dilakukan selain tawuran. Daripada kita nguras energi banyak buat tarung ama golok atau kayu, mending kita nge-band, maen basket, maen teater, parkour atau apalah yang mereka suka.

Dan di hari H penampilan, I was glad I’ve done my best. (Meskipun gue sempet kecewa sama endingnya, it was not as great as it planned). Penampilan dimulai dengan setting di puncak tangga, seorang pelajar (Deny) yang masih menggunakan seragam SMA dan bercak darah di baju seragamnya terikat di sebuah tiang dengan tak sadarkan diri. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi kepadanya dan seketika ia sadar dan panik karena dirinya diikat di tempat yang asing. Dia ingat kalo baru aja tawuran dan mengkhawatirkan nasib teman-temannya yang lain. Diantara kebingungannya, ia menemukan beberapa serpihan barang yang terlempar dari tasnya: gunting dan bercak darah, buku pelajaran, bekal buatan ibu dan foto group band-nya. Dia semakin sedih dan semakin sadar kalo dia sudah meninggal dan berada di tempat asing. Dia menyesali semua yang udah terjadi dan monolog ditutup dengan lagu “Time to Say Goodbye”-nya Andrea Bochelli.

Dari segi naskah, monolog ini banyak pake sindiran-sindiran metafora dan ironi yang menyangkut pautkan keacuhan Pemerintah lebih sudi mempersoalkan uang daripada tawuran ย pelajar juga sempet nyinggung masalah kesibukan orang tua yang gak pernah punya “quality time” sama anaknya.

Meskipun konsep ini jelas bukan “the real story” of kasusnya Alawy, tapi paling tidak Monolog ini merupakan representasi “suara anak muda” yang selama ini tenggelam dan tidak pernah didengarkan oleh orang dewasa.

Alhamdulilah, di hari pengumuman gue dapet The Best 5 Awards dengan Hadiah Uang Tunai, Sertifikat da Merchandise. (Ada 6 Pemenang: The Best of The Best dan The Best Five). Dan alhamdulilah gue dapet sesuai target: One of The Best Five. Kompetisi ini diikuti oleh lebih dari 30 insan teater se Jawa-Bali meskipun mayoritas berasal dari Jabodetabek.

Sesuai dengan nazar, setelah dapet hadiah gue langsung ke rumah Alm. Alawy di Tangerang (malem-malem, untung gak kesasar dan bersyukur dapet bantuan warga _ google map untuk nemuin rumahnya.) Kebetulan Ibu Alawy baru pulang pengajian waktu itu. Udah lebih dari 40 hari sejak kepergian Alawy tapi suasana duka masih kentel banget terasa di rumah dia. Gue langsung bicara maksud kedatangan gue kesana (yang juga disambut mbaknya Alawy yang ternyata kuliah di UI). Gue bilang ke mamanya Alawy “Yang tabah ya bu. Mungkin emang butuh waktu, tapi semoga ibu bisa rela. Saya tahu Alawy anak yang baik.”

Setelah itu gue pulang dan gue ngerasain suatu kelegaan yang belum pernah gue rasain sebelumnya. Menang Teater emang bukan hal yang pertama (gak maksud sombong loh), tapi kali ini kemenangan gue berasa beda. Kemengan gue berasa lebih “bermanfaat” dan lebih “bermakna” ketika gue bisa berbagi dengan orang lain. Meskipun gue gak dapet materi tapi ada “kepuasan” berbeda ย yang gue rasain dan dan gue bersyukur bisa terlibat dalam hal ini.

Ada satu hal yang buat gue semakin lega: Sempet gue tanya ke mama Alawy: “Ibu, apakah ada pihak pemerintah yang datang? Kepala Dinas Pendidikan? Kementrian atau Pak Nuh, mungkin? Dan guess what, ternyata Bu Linda Gumelar sempat datang. Seorang Menteri Pemberdayaan PP dan PA yang cukup berjasa buat perjuangan gue menuju Eropa untuk Kongres AIDS International Tahun 2010 lalu. Gue lega, at least. Ternyata masih ada pemimpin kita yang”benar-benar peduli” …

Selamat tinggal Alawy, meskipun kau telah tiada, tapi mimpi dan semangatmu tak akan pernah pudar. Semoga kau damai di atas sana. Dan semoga tak kan ada lagi Alawy-Alawy lainnya di masa mendatang. STOP TAWURAN PELAJAR SEKARANG JUGA!!

Special Thanks to:

Ricky Setiawan, yang udah rela menjadi asisten mulai dari make up, properti dan segalanya.

Rifqi and Mesha, yang rela dateng dari BS naek Taksi ke Taman Ayodya. (Kapan ya bisa nongkrong di Starbucks lagi ama kalian?๐Ÿ˜€ )

Iqbal, yang minjemin kameranya :p

Federasi Teater Indonesia, yang telah menyelenggarakan dan memfasilitasi acara ini dengan baik.

Teater 70, SMAN 70 Jakarta Selatan yang bersedia hadir di pertunjukan saya.

Dan untukmu. Yang membaca blog ini dan kemudian melakukan sesuatu untuk MENCEGAH TAWURAN PELAJAR.

Peace!

Posted on December 5, 2012, in My Life and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Putu Wijaya

Bertolak Dari Yang Ada

Website Dewan Perwakilan Anak Kota Malang

"Because We Care of the Child"

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

ISA Study Abroad Student Blog

The World Awaits...Discover It.

MP3.com

Free music downloads, radio, lyrics, songs, and playlists

Hadiansyah Aktsar Official Site

More than just a blog : a pen, diary and imagination ~

%d bloggers like this: