Bunyi, Waktu dan Alam Semesta


Gong Ex Machina performed by Teater Garasi. Gedung Kesenian Jakarta, 29/11/2018.

Suara gemericik air yang menenangkan diantara asap tebal yang muncul dari kiri-kanan panggung memberikan sensasi tersendiri bagi para pengunjung Gedung Kesenian Jakarta malam itu. Gong Ex Machina, judul dari pementasan teater kontemporer persembahan Teater Garasi yang disutradarai oleh Yudi Ahmad Tajudin berkolaborasi dengan seniman bunyi dan komposer asal Jepang, Yasuhiro Morinaga menjadi salah satu pertunjukan yang wajib ditonton di Tahun 2018 ini.  Betapa tidak, disaat para kaum millenial sibuk menghabiskan uang saku hanya untuk nongkrong di warung kopi atau kafe-kafe mahal atas nama prestige dan gaya hidup, pertunjukan-pertunjukan eksperimental yang membawa isu-isu dekat dengan kaum urban saat ini mampu menjadi media hiburan alternatif bagi warga metropolitan yang merasa jenuh oleh rutinitas-rutinitas yang mereka jalani sepanjang waktu.

Morinaga, dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa dalam beberapa kebudayaan Asia Tenggara, gong adalah media untuk berkomunikasi kepada entitas supranatural, termasuk para arwah leluhur, para dewa atau bahkan Tuhan itu sendiri. Pertunjukan Gong Ex Machina dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada 29-30 November 2018 sebagai bagian peringatan 60 tahun hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia.

Suara dentuman-dentuman Gong seketika membuyarkan lamunan penonton atas merdunya bunyi gemericik air yang hadir di adegan-adegan pertama. Dari tengah-tengah penonton, muncul segelintir orang yang memikul Gong di pundaknya, berjalan perlahan menuju panggung proscenium.  Sementara itu, sang narator berdialog kepada penonton tentang asal muasal bunyi, nebula dan penciptaan alam semesta yang juga secara visual ditampilkan dengan apik bernuansa wayang dan makhluk-makhluk yang tercipta saat itu. 

Suasana panggung berubah seketika saat bunyi gong berpadu dengan musik dan berbagai macam bunyi-bunyi yang memiliki frekuensi berbeda dihadirkan memekakkan telinga. Menariknya, bunyi-bunyian itu tak hanya bersumber dari panggung namun juga dari kiri, kanan dan belakang penonton. Inilah konsep tata suara 3D-immersive yang terdengar menyeluruh dan memenuhi ruangan dari segala penjuru yang ditata sedemikian rupa oleh penata suara kenamaan dari Jepang, Tetsushi Hirai. Adegan mulai mencapai klimaks ketika tata cahaya yang menyilaukan mata dengan padu dihadirkan bersama kerasnya bunyi-bunyian hingga kemudian hadirlah gramophone yang datang dari atas panggung. Respons jenaka para aktor dalam memaknai datangnya gramophone-grampohone itu memberi suasana komedi yang cukup menggelitik, mengingat suasana yang dibangun dari awal pertunjukan cukup magis dan mencekam.

Sang narator kemudian menjabarkan tentang penemuan-penemuan teknologi dan segala perkembangannya mulai dari zaman Yunani Kuno hingga zaman Napoleon. Beberapa tokoh membawa buku sebagai simbol ilmu pengetahuan. Ada pula sosok misterius berselimut putih tebal hadir diantara pemain. Siapakah dia? Apakah dia adalah Dewa yang selama ini dipuji-puja?

Gerak tubuh dan peristiwa-peristiwa yang penuh imaji dan metafora dengan perpaduan bunyi dan emosi penuh makna mempengaruhi respons setiap aktor untuk bergerak di atas panggung. Tak heran jika pementasan Teater Garasi kali ini disebut dengan teater bunyi. Dalam pementasan ini, bukanlah naskah lakon yang diciptakan sedemikian rupa untuk menjadi sumber garapan pertunjukan namun justru lebih menekankan pada bagaimana para aktor memaknai komposisi yang ada dalam bunyi-bunyian tersebut.

Adegan demi adegan berlangsung. Meskipun pertunjukan ini bukanlah teater realis dengan struktur dramatiknya yang jelas dan mudah dimengerti oleh orang awam, namun Yudi Ahmad Tajudin mampu menghadirkan transisi-transisi adegan yang jelas, lugas dan smooth sesuai dengan paduan konsep artistik, musik dan gerak para aktor. Ketika kemudian suara-suara jangkrik dan sunyinya nuansa pedesaan di malam hari hadir di atas panggung sementara para aktor duduk bersila, makan malam dengan piring seng yang khas dengan suasana jaman dulu, para penonton secara tidak langsung dibawa nostalgia mengingat memori-memori masa lalu melalui bunyi dan visual yang hadir pada saat itu.

Puncak klimaks selanjutnya dibangun dengan hadirnya bunyi-bunyi tembakan, pesawat tempur, suara bom, meriam dan sirine yang bersahut-sahutan sementara suasana panggung menjadi merah menghadirkan kesan yang mencekam. Dari lubang gramophone tiba-tiba muncul asap dan asap-asap lain hadir dari segala penjuru memenuhi panggung. Bendera merah dan bendera putih hadir di atas panggung sebagai simbol peperangan. Emosi penonton dipermainkan sedemikian rupa tentang bagaimana bunyi sangat mempengaruhi setiap hal dalam kehidupan kita. Dari syahdu, merdu, hingga kemudian menjadi mala petaka yang memekakkan telinga dan meneror jiwa.

Seorang wanita hadir melantunkan nyanyian-nyanyian pilu sambil memukul-mukul gong. Suaranya yang merdu sangat padu dengan bunyi-bunyian yang membawa kita pada pertanyaan mendasar tentang kemanusiaan: mengapa kita terus berperang? Munculnya golongan-golongan sosialis, komunis, nasionalis dan libelaris yang membuat bumi menjadi terkotak-kotak oleh kepentingan ekonomi, politik dan sosial yang tak pernah ada habisnya. Berbagai macam agama lahir di muka bumi yang walaupun berbeda-beda namun pada dasarnya mengajarkan kebaikan, kepatuhan kepada Sang Pencipta. Namun mengapa kita terus berperang?

Diantara penonton yang bertanya-tanya tentang adegan demi adegan yang terjadi dengan cepat di atas panggung, pementasan Gong Ex Machina ini merupakan suatu wujud refleksi kita sebagai manusia bagaimana kita memaknai bunyi, ruang, waktu dan alam semesta yang secara dinamis berkembang pesat searah dengan perkembangan teknologi. Diantara segala permasalahan kemanusiaan yang hadir di tengah-tengah kita saat ini, apakah kita masih ingat kepada Tuhan, pencipta alam semesta? Tuhan manakah yang selama ini kita dengar dan menggerakkan kita?

***

Jakarta, 29 November 2018

Advertisements

Posted on November 30, 2018, in My Life and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Putu Wijaya

Bertolak Dari Yang Ada

Website Dewan Perwakilan Anak Kota Malang

"Because We Care of the Child"

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

ISA Study Abroad Student Blog

The World Awaits...Discover It.

MP3.com

Retro music quizzes and playlists from the '80s, '90s and '00s.

Hadiansyah Aktsar Official Site

More than just a blog : a pen, diary and imagination ~

%d bloggers like this: