Blog Archives

Macbeth yang Mencekam Namun Penuh Melodi


“Hidup hanyalah dongengan tolol yang penuh kasak-kusuk, tetapi tak ada artinya. Inilah penghianatan ghaib yang menjelma menjadi kenyataan. Aku mulai jemu pada matahari. Aku ingin ada kiamat hari ini. Nujuman terhadapku ternyata adalah kutukan..”


  

Demikianlah sedikit cuplikan monolog pada pementasan Tommorow as Purposed karya Melati Suryodharmo sebagai salah satu rangkaian acara pembukaan Indonesian Dance Festival 2016 pada 1 November 2016 lalu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Pertunjukan ini diawali dengan suara gendang yang ditabuh secara perlahan kemudian semakin keras dan saling bersahut-sahutan. Tak lama kemudian, tiga orang penari dari samping kiri panggung dan tiga penari lainnya dari kanan panggung dengan perlahan memasuki panggung sesuai dengan ritme suara gendang.

Penonton dibuat semakin penasaran ketika kemudian muncul sosok wanita dengan gaun merahnya yang menyala memasuki panggung proscenium dengan membawa hati sapi yang dibalut dengan kain yang juga berwarna merah. Dengan mimik dan langkah yang mencekam, ia berjalan perlahan tapi pasti menuju level paling atas panggung.

Tomorrow as Purposed, yang menjadi judul pertunjukan ini merupakan kata-kata seorang penyihir dalam lakon Macbeth karya William Shakespeare yang meramalkan bahwa pada suatu saat nanti Macbeth akan menjadi seorang raja. Ramalan ketiga penyihir itulah yang kemudian memberikan ambisi Macbeth untuk merebutkekuasaan Raja Duncan dengan cara membunuhnya.

Melati Suryodarmo yang memiliki latar belakang sebagai seorang performer arts, telah berkecimpung di ranah seni rupa dan performing arts sejak 1994 silam. Melatifokus terhadap bidang studi konsep ruang dan performing arts yang ia dalami dari Hochschule fuer Bildende KuensteBraunscweig (HBK) Jerman. Selama lebih dari 20 tahun, Melati telah menampilkan karya-karya performance-nya di berbagai festival Internasional dan juga aktif berpartisipasi di berbagai pameran-pameran seni rupa di berbagai Negara.

Melalui pertunjukan ini, Melati berhasil memadukan unsur-unsur teater, tari, musik, paduan suara dan performing arts secara apik dan konseptual. Menurutnya, di era yang serba modern ini masih banyak fenomena yang terjadiantara perebutan kekuasaan dengan dunia supranatural.

Kesan mistis dan mencekam sangat terasa selama pertunjukan berlangsung. Terlebih ketika lima orang penari dengan busana serba hitam memasuki bagian depan panggung dan seketika ratusan paku-paku kecil seolah-olah keluar dari tubuh mereka. Adegan-adegan pertarungan kerap ditampilkan parapenari dengan golok asli yang ada di tangan mereka sedangkan tarian-tarianmetafora yang memperagakan adegan-adegan pembunuhan keji dengan tanpa diingiringi musik apapun sehingga kesan magis semakin terasa diantara kesunyian yang membuat merinding para penonton yang menyaksikannya.

Di sisi lain, penonton dibuat menganga olehnyanyian-nyanyian merdu penuh harmoni yang dibawakan oleh Paduan Suara VocaErudita dari Universitas Sebelas Maret, Solo. Paduan suara ini tidak hanyamenampilkan koor pada umumnya yang hanya berdiri di atas panggung, namun juga menjadi bagian dari pertunjukan yang ada dengan melakukan gerakan-gerakan dan perpindahan bloking sesuai tokoh yang mereka perankan di adegan demi adegan.

Tarian-tarian kontemporer yang ditampilkan di setiaptransisi juga terasa pas. Kali ini, Melati berkolaborasi dengan para penariyang sudah tak asing lagi namanya di dunia seni pertunjukan seperti Cahwati, Luluk Ari, Retno Sulistyorini dan Agus Mbendol. Sedangkan penataan musik dalampertunjukan ini dibantu oleh seorang komponis asal Jepang, Naoki Iwata alias SKANK.

Pertunjukan yang berlangsung selama kurang lebih 120 menit ini secara umum sangat menarik dan layak untuk dikaji lebih dalam. Hal ini dikarenakan setiap karya-karya Melati selalu mengandung nilai pesan filosofis yang tidak secara eksplisit ditunjukan pada performing arts yang ditampilkan.

Pertunjukan Tommorow as Purposed ini tidak hanya menampilkan sebuah gagasan seorang seniman dalam mengangkat sebuah tema, namun juga menampilkan kemahiran Melati dalam mengatur komposisi gerak, suara dan juga ritme dan tempo pertunjukan. Terkadang penonton diberi waktu untuk tidak mendengarkan apa-apa selain gerak tubuh para penari, namun sesekali dentuman musik yang keras cukup memekakkan telinga.

Sekali lagi, Melati berhasil memvisualisasikan sebuah kekuasaan, ketamakan manusia dan kelaliman penguasa dalam setiap unsur gerak tubuh, musik dan akting yang dibawakan oleh para lakon.

*****

Hadiansyah Aktsar

Jakarta, 2 November 2016

Advertisements
Putu Wijaya

Bertolak Dari Yang Ada

Website Dewan Perwakilan Anak Kota Malang

"Because We Care of the Child"

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

ISA Study Abroad Student Blog

The World Awaits...Discover It.

MP3.com

Retro music quizzes and playlists from the '80s, '90s and '00s.

Hadiansyah Aktsar Official Site

More than just a blog : a pen, diary and imagination ~